PROJECT OBJECTIVE
Produk dari proyek ini adalah sebuah kawasan masjid yang menjadi pemantik pertumbuhan bagi suatu wilayah. Kawasan masjid yang menjadi Islamic Centre seluas kurang lebih 15.000 meter2 ini terdiri dari beberapa gubahan masa dimana setiap bangunan ini akan menampung 4 kegiatan utama di masjid yaitu kegiatan Ibadah & dzikir, Da’wah, Ta’lim dan service. Dengan mewadahi 4 kegiatan ini, diharapkan masjid ini akan tetap hidup dalam 24 jam sehingga wilayah ini akan tetap hidup dalam 24 jam pula. Dengan masjid sebagai pusat pertumbuhan wilayah ini, diharapkan akan membawa pengaruh yang Islami bagi masyarakat wilayah tersebut khususnya dan bagi masyarakat luas pada umumnya.
Masjid ini akan menjadi sebuah kawasan tumbuh yang akan berkembang dalam jangka panjang hinggga 50 tahun. Desain akan menitik beratkan pada 3 titik tahun pertumbuhan yaitu pada tahun ke 10, tahun 25 serta tahun ke 50
PROBLEM STATEMENT
- Daerah Kricak merupakan daerah padat penduduk yang terletak di tengah kota, bagian timurnya merupakan daerah komersil berupa pertokoan yang tidak bisa diubah fungsinya menjadi daerah pemukiman karena lokasi ini terletak di pinggir jalan utama dan sangat menjanjikan sebagai area perdagangan. Selain itu, warga yang sudah membangun perdagangannya di sini tidak akan setuju jika daerah ini dialih fungsikan menjadi daerah pemukiman.
- Pertambahan penduduk tiap tahunnya menuntut tersedianya lahan yang mampu menampung jumlah penduduk. Tetapi permasalahan lahan merupakan permasalahan yang tak dapat diganggu gugat karena tak dapat diperbarui atau ditambah, dengan kata lain sumber daya alam yang tak dapat diperbarui. Akibatnya, kawasan ini akan semakin padat dengan rumah penduduk dan jumlah penduduknya juga.
- Terdapat pemukiman di DAS Winongo yang rawan menjadi daerah slum.
- Kurangnya jumlah ruang hijau baik mikro maupun makro di kawasan ini mengakibatkan kawasan ini gersang, panas, bahkan tidak baik karena tidak ada penetralisir udara yaitu berupa tanaman hijau yang mampu menyaring udara kotor karena asap kendaraan bermotor dari jalan utama yang berada di batas timur kawasan.
- Kurangnya daerah resapan air karena sebagian besar permukaan tanah mengalami perkerasan baik menjadi bangunan maupun perkerasan jalan dengan aspal maupun conblock.
- Sungai Winongo menjadi daerah yang tidak bersih karena warga menggunakan sungai ini untuk keperluan MCK dengan tak terkendali.Padahal warga juga menggunakan air dari sungai ini untuk keperluan rumah tangga sebagai air bersih. Akibatnya, warga yang menggunakan air sungai ini untuk keperluan air bersih akan terancam terjangkit penyakit karena air sungai di sini tidak bersih. Selanjutnya, PHBS di kawasan ini menjadi rendah dan kualitas kesehatan masyarakat di sini menurun.
- DAS Winongo yang difungsikan menjadi pemukiman juga berbahaya karena daerah lereng sungai yang harusnya diperkuat dengan akar - akar tanaman agar tanah tidak longsor, dijadikan sebagai daerah pemukiman. Jika tanah lereng sungai ini tidak kuat lagi, maka bisa terjadi longsor dan akan membahayakan penghni rumah di lereng sungai.
- Karena padatnya penduduk di sini, kawasan lebih didominasi dengan rumah penduduk. Dan area sirkulasi atau jalan arteri menjadi sedikit proporsinya. Jalan - jalan yang sempit tidak hanya menjadi ancaman untuk segi keamanan terutama saat malam hari tetapi juga menjadi hambatan misalnya saat sarana seperti mobil pemadam kebakaran harus masuk kawasan ini untuk memadamkan api tidak dapat masuk kawasan karena jalan terlalu kecil.
- Sebagian besar masyarakat kawasan ini merupakan masyarakat dengan kondisi ekonomi dibawah rata - rata.
- Banyak rumah yang termasuk tidak layak huni baik dari segi kekuatan bangunan, sirkulasi udara, kebersihan, atau adanya ruang hijau.
- Kurangnya ruang terbuka yang dapat digunakan warga untuk kebutuhan sosial karena tak tersedianya lahan. Anak - anak tak punya ruang bermain sehingga mereka bermain di jalan - jalan kampung dan tentu saja ini membahayakan tidak hanya anak - anak itu sendiri tetapi para pengguna jalan juga.
- Tidak adanya tempat atau ruang untuk parkir sehingga masyarakat akan memarkir kendaraan mereka di pinggir jalan, padahal lebar jalan saja sudah termasuk sempit. Sehingga akan lebih mempersempit lebar jalan lagi dan akan mengganggu sirkulasi.
- Karena terlalu padatnya kawasan ni, jarak antara rumah satu dan yang lain tidak ada sehingga mengurangi adanya ruang privat antara keluarga satu dan keluarga yang lain.
PROBLEM SOLVING
SITE ANALYSIS
Lokasi Site

Kelurahan : Kricak
Kecamatan : Tegalrejo
Jumlah penduduk : 16.164 jiwa
Luas : 82 Ha
Kepadatan penduduk : 197,1 jiwa/Ha ( th 2008 )
Kondisi Geografis
- Letak geografis Kota Yogyakarta diantara 110° 24’ 19” dan 110° 28’ 53” Bujur Timur (BT), 7° 49’ 26” dan 7° 15’ 24” Lintang Selatan (LS) dengan ketinggian rata-rata 114 m diatas permukaan laut.
- Ketinggian air laut 100 – 119 m dari permukaan laut
- Tertinggi curah hujan tahun 2006 bulan Maret =387,5 mm ,terendah bulan Juni- dengan September =0 mm. Rata-rata hari hujan per bulan 11,08 hari hujan,
- suhu rata-rata 27,8°C
- kelembaban udara rata-rata cukup tinggi pada bulan Maret =87% dan terendah bulan Juni-September =72%.
- Angin pada umumnya bertiup angin muson, musim hujan bertiup angin barat daya dengan arah 240° bersifat basah dan mendatangkan hujan, pada musim kemarau bertiup angin muson tenggara yang agak kering dengan arah ± 90° - 140° dengan rata-rata kecepatan 2-3 knot/jam.
Batas Site
Utara : Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman
Timur : Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo
Selatan : Kelurahan Bumijo, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta
Barat : Kelurahan Bener, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta
Total luas site yang digunakan adalah 15.000 m2
View Site
Analisis Pengembangan Site
Site tidak digunakan seluruhnya secara langsung. Seiring dengan pengembangan, penggunaan site akan mengalami penambahan. Pada taun pertama, dari total luas site15.000 m2 hanya digunakan 7.300 m2
Kemudian pada tahun ke 25, seluruh bagian site digunakan tetapi tidak seluruhnya akan menjadi bangunan. Penambahan luas bangunan akan bertambah pada tahun ke 25 dan pada tahun ke 50 secara bertahap. Area pertokoan dan pemukiman di sebelah timur akan dipindahkan sehingga site berada di tepi jalan Magelang, tidak lagi dipisahkan oleh area pertokoan dan pemukiman.
SIRKULASI
Sirkulasi untuk tahun ke 10, dari Jalan MAgelang menuju gang Kricak Kidul lau menuju jalan arteri menuju site. Jalan arteri doperlebar menjadi 4 meter agar memudahkan sirkulasi.
Pada tahun ke 25, terjadi perluasan site sehingga area pertokoan dan pemukiman di sebelah timur site dipindahkan. Sirkulasi menuju site tidak lagi melalui jalan arteri tetapi langsung dari jalan Magelang memasuki area site melalui entrance.
THE DESIGN
CONCEPT
Masjid ini akan menjadi sebuah kawasan tumbuh yang akan berkembang dalam jangka panjang hinggga 50 tahun. Desain akan menitik beratkan pada 3 titik tahun pertumbuhan yaitu pada tahun ke 10, tahun 25 serta tahun ke 50. Melihat semakin meningkatnya tingkat pemanasan global, maka dari itu saya menggunakan konsep organic karena pentingnya factor ekologi yang akan sangat dibutuhkan pada masa mendatang. Kawasan masjid ini tetap memiliki sifat sebagai Green Architecture. Untuk itu, bangunan yang ada pada site ini tidak sepenuhnya dibuat menutup seluruh area site yang ada. Bangunan berupa gubahan – gubahan masa dipilih agar masih tersedia area – area yang menjadi daerah resapan air hujan. Tidak hanya itu, bangunan utama berupa masjid juga dibuat seakan “melayang” agar daerah tanah di bawah bangunan juga bisa menjadi daerah resapan air.
Selain itu, penggunaan teknologi juga diperhatikan untuk mendukung konsep organic disini. Selain menggunakan air tanah yang akan tetap tersedia karena masih banyaknya daerah resapan air hujan disini, curah hujan yang tinggi dimanfaatkan dengan menyimpan air hujan yang ditampung di ground water tank di bawah open space yang kemudian akan didaur ulang untuk keperluan air wudhu, menyiram tanaman dan untuk flushing toilet. Selain air hujan, air bekas air wudhu juga akan didaur ulang untuk penghematan penggunaan air tanah.
Sinar matahari yang melimpah juga akan dimanfaatkan sebagai penerangan alami pada siang hari sehingga pada siang hari tidak memerlukan listrik. Selain itu, akan dipasang photovoltaic pada beberapa bagian di bangunan sehingga cahaya matahari dapat dimanfaatkan dengan mengkonversinya menjadi tenaga listrik utnuk keperluan pencahayaan pada malam hari.
Untuk struktur, selain menggunakan baja, kolom – kolom pada bangunan masjid menggunakan beton berbambu, bukan menggunakan tulangan baja dengan pertimbangan bahwa bambu dalam level tertentu berkarakter sama dengan baja yaitu terhadap gaya tarik. Selain itu, penggunaan material bambu dilakukan karena pendekatan konsep organic, yaitu menggunakan material alam.
Kegiatan komersial tidak diwadahi dalam ruangan atau bangunan. Tetapi pada area yang menggunakan payung – payung raksasa dengan diameter lebar dan ketinggian tiang yang cukup tinggi. Kegiatan komersial akan berlangsung di bawah payung – payung tersebut. Payung – payung ini disusun sedemikian rupa sehingga saat hujan pun, area di bawahnya tidak akan kehujanan. Dengan menggunakan konsep payung - payun ini, area komersial yang umumnya akan penuh sesak dengan para konsumen akan terasa tidak panas atau pengap karena area ini berada pada ruang semi terbuka sehingga para konsumen akan tetap merasa nyaman untuk berbelanja. Selain itu untuk keperluan pengembangan kawasan, area komersial ini akan mengalami perkembangan dan pemindahan lokasi. Dan keuntungan lain dari penggunaan payung ini adalah untuk memudahkan pemindahan area komersial ini tanpa perlu mengeluarkan biaya atau membangun sebuah bangunan baru. Dengan kata lain, area komersial ini menjadi area yang fleksibel.
ZONING
zoning pada tahun ke 10
zoning pada tahun ke 25
zoning pada tahun ke 50
STUDI BENTUK
Terdapat 2 studi bentuk, yaitu untuk bangunan dengan fungsi sebagai tempat ibadah dan bangunan yang berfungsi sebagai ta’lim, da’wah dan service.
Bentuk pertama diambil dengan konsep ‘ibu yang merengkuh anak – anaknya’. Digambarkan dengan adanya hierarki yaitu pada kerucut bertiang 4 yang melambangkan sang ibu dan masa di kanan kirinya yang melambangkan sang anak. 4 tiang pada kerucut menggambarkan fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah, da’wah, ta’lim dan service. Diharapkan masjid ini dapat membawa jamaah menuju surga seperti sang ibu yang merengkuh anak – anaknya menuju kebajikan.
Bentuk bangunan kedua diambil dari konsep buah jeruk. Rasulullah bersabda, “Permisalan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an ialah seperti buah jeruk, rasanya manis dan aromanya harum” (HR. Bukhari 8/59 dan Muslim (797). Selain itu, jeruk adalah buah yang tidak disukai masjid dan membawa banyak manfaat bagi manusia. Diharapkan, masjid ini bisa membawa manfaat bagi para jamaahnya dan membawa menuju tingkat keimanan yang lebih baik. Selain itu, kawasan masjid yang menjadi pusat pertumbuhan kawasan ini diharapkan membawa pengaruh baik bagi lingkungan sekitarnya, menjauhkan dari hal – hal buruk layaknya jin yang tidak menyukai buah jeruk.
Bentuk dasar buah jeruk yang seperti setengah lingkaran dipotong dan kemudian diekstrude menyerupai prisma segitiga tetapi salah satu sisinya melengkung.
SITE PLAN
site plan tahun 2020
site plan tahun 2035
site plan tahun 2060
DENAH
Masjid
denah masjid lantai 1
denah masjid lantai 2
denah masjid lantai 3
Perpustakaan
denah perpustakaan lantai 1
denah perpustakaan lantai 2
Potongan kawasan
Rencana Sanitasi
rencana sanitasi tahun 2020
rencana sanitasi tahun 2035
rencana sanitasi tahun 2060
Tampak dan Perspektif
Tahun 2020
Tahun 2035
Tahun 2060
Perspektif






























.jpg)